Brilio. net – Perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Ungkapan itu sangat tepat disematkan pada dongeng perjalanan dr Wahyu Triasmara, pembuat sekaligus pencipta beragam produk DRW Skincare. Sebelum sukses seperti saat ini, ia harus menjalani proses lama dan jalan berliku.

Usai lulus kedokteran pada tahun 2010, ia mulai hidup di dua rumah sakit preman di Purworejo, Jawa Tengah. Di salah satu rumah sakit tersebut, ia bekerja menyediakan pelayanan estetika. Pekerjaan ini awalnya ia jalani dengan terpaksa karena dokter penjamin jawab sebelumnya mengundurkan diri.

“Sebenarnya agak terpaksa. Tapi itu menjadi berkah buat saya dikemudian hari. Di situ saya belajar lebih banyak disiplin ilmu, khususnya dalam bidang estetika, ” ujarnya.

Sesudah dua tahun bekerja, Wahyu jadi mengumpulkan tabungan sekitar Rp 50 juta. Saat itu ia berencana meneruskan pendidikan spesialis obstetri ginekologi atau kandungan. Tekadnya begitu berpengaruh untuk sekolah lagi. Hanya saja tabungan yang ia kumpulkan belum cukup untuk biaya pendidikannya. Dia pun memutar otak mendapatkan bunga uang.


Loading…


“Saat itu saya belum menikah. Morat-marit bertemu dengan teman SMP, menganjurkan bisnis investasi dan emas. Dari situlah, awal mula datangnya bencana bagi saya, ” jelas Wahyu.

Wahyu yang tergiur iming-iming buatan besar, akhirnya menginvestasikan semua dana miliknya. Ia percayakan untuk diinvestasikan pada temannya tersebut. Saat itu ia berpikir dengan berinvestasi akan menghasilkan lebih banyak uang, jadi dapat cepat sekolah spesialisi.  

Dua bulan pertama ia mendapat hasil yang cukup menggiurkan. Tetapi ia tak pernah mengambil hasil investasi itu. Ia justru menanamkan kembali dalam jumlah yang bertambah besar dari sebelumnya. Malah ia juga mengajak rekan-rekannya untuk bersepakat.  

“Saya ajak teman-teman pada rumah sakit. Ada bidan, pembela. Saya juga mengajak teman-teman periode sekolah, teman kuliah. Bahkan orangtua saya dengan jerih payahnya memperoleh uang pensiun. Saya investasikan pada teman saya tersebut, ” kisahnya.

Malapetaka itu datang

Tak disangka, tiga bulan selanjutnya semua uang yang jumlahnya hampir Rp 850 juta gaib tak tersisa. Temannya yang ia percaya itu hilang entah ke mana. Musibah ini menjadi tangan hebat baginya. Wahyu tak memandang, ia harus menerima cobaan mengerikan seperti itu. Bahkan ia sendiri tak pernah melihat dan menyentuh uang sebanyak itu.

“Jadi di setiap dapat uang dari teman, saya langsung transfer ke teman aku tersebut. Jadi benar-benar uang tersebut hilang raib. Belum pernah kurang pun teman-teman saya mendapatkan untuk hasil dari investasi tersebut, ” ujarnya.

Peristiwa itu sempat membuatnya terpukul dan stres berat. Dia tak mampu jujur menceritakan pada orangtuanya karena tak mau merepotkan dan berimbas buruk pada itu. Saat itu, hanya ada satu orang tempat ia berkeluh kesah, Nita Yulianti, yang saat ini menjadi istrinya.

Nita tidak henti-hentinya menyemangati Wahyu untuk tak larut dalam kesedihan. Nita juga yang membantu Wahyu bangkit & meyakinkannya berani mengejar cita-citanya jadi dokter spesialis.

Berkat dukungan Nita, Wahyu akhirnya berani berkomitmen mengembalikan uang rekan-rekannya yang raib. Sesudah pertemuan pertama dengan Nita, setahun kemudian mereka menikah. “Itu adalah pernikahan yang kami rintis segenap dari minus. Kami berjuang bergabung untuk melewati masa-masa sulit, ” kenangnya.

Mulai berbisnis, kulakan dan tidur di masjid

Tak lama setelah menikah, mereka memutuskan berbisnis jualan online pakaian dan jilbab. Mereka selalu sempat menjadi reseller di kurang penjual lain di Jakarta. Pada setiap dua kali dalam sebulan, pasangan muda ini kulakan di Rekan Tegal Gebug, Cirebon.   Di sana, mereka bahkan rela rebah di masjid karena pasar itu hanya buka satu minggu seluruhnya. “Setelah hampir dua tahun menjalani bisnis pakaian, kami sempat terlena. Dua tahun menikah, kami tak kunjung diberikan momongan, ” sebutan Wahyu.

Menyadari itu, pasangan itu menjalani program hamil di mana istrinya diharuskan mengonsumsi obat-obat hormon. Ternyata hal itu berdampak di dalam wajah Nita yang mulai ditumbuhi jerawat. Mereka sempat melakukan penelitian ke beberapa dokter, termasuk mengindahkan racikan dari rumah sakit wadah Wahyu bekerja, tetapi tak membuat hasil.

Wahyu akhirnya mencoba mendirikan racikan sendiri untuk digunakan pada istrinya. Ternyata, racikan tersebut menyerahkan hasil pada istrinya yang sedangkan dalam program hamil. “Alhamdulillah jerawatnya bisa sembuh, ” jelasnya.

Sebab situ, harapan mulai terlihat. Beberapa keluarga dan teman-teman istrinya tertarik mencoba krim racikan Wahyu. Di tahun 2014, Wahyu berani menjual produk skincare yang ia bagi dengan nama DR Skincare. Produk ini cukup diminati di Kalimantan Timur, karena di sana penuh keluarga Wahyu yang menggunakannya.  

Lahirnya DRW Skincare

Setahun kemudian, Wahyu & istrinya membuat jaringan bisnis online prosefional dan mendaftarkan produknya ke BPOM. Sempat terkendala dalam cara pendaftaran, sebab BPOM tak mampu menerima merek DR Skincare. Nita menyarankan untuk menambahkan huruf W di belakang DR menjadi DRW yang merupakan akronim nama suaminya. Akhirnya, nama DRW Skincare disetujui BPOM.

“Dari situlah hadirnya nama DRW Skincare dengan memiliki jaringan bisnis online yang waktu itu berkembang dari satu orang, perut orang, pada akhirnya hampir kepala tahun seratus orang, ” sahih Wahyu.

Pada 2019, jaringan bisnisnya telah memiliki hampir 10 ribu beauty consultant terpercaya yang tersebar di seluruh Indonesia. Perjalanan DRW Skincare dari tahun 2015 tenggat saat ini, berhasil membangun klinik sederhana di Kota Purworejo. Klinik DRW Skincare ini digunakan jadi pelayanan perawatan masyarakat sekitar. Lalu pada 2017, klinik kedua dia dirikan di Kutoarjo. Setahun kemudian, banyak reseller DRW Skincare dengan mempercayakan perawatannya pada DRW Skincare.  

Kehadiran dan keberhasilan DRW Skincare lahir dari pergulatan kemahiran pahit di masa lalu. Dongeng yang dialami Wahyu mengajarkan banyak orang untuk tidak menyerah. Selalu ada harapan di setiap masalah dan selalu ada cobaan dengan layak dijadikan pelajaran.

Recommended By Editor